Sejarah Desa Windujaya

Legenda Desa dan Sejarah Pembangunan Desa

Pedukuhan Windu
Awal Mula Sebuah Wilayah

Sebelum penjajah Belanda menginjakan kakinya di bumi Nusantara, di sebelah barat daya Keraton Pakungwati terdapat sebuah pedukuhan yang didiami oleh Buyut Windu dan putranya yang bernama Buyut Jalalen. Setelah Buyut Windu meninggal dunia, disebutlah pedukuhan itu dengan nama Pedukuhan Windu.

1
Perluasan Wilayah
dan Keberanian Buyut Arjani

Untuk mengembangkan wilayah pemukiman, melanjutkan cita-cita ayahandanya, Buyut Jalalen memerintahkan kepada penduduk Pedukuhan Windu untuk membuka hutan di sebelah timur, namun penduduk tidak ada yang berani karena di hutan itu masih banyak binatang buas. Dibicarakannya masalah itu kepada menantunya yang bernama Buyut Arjani. Hal itu disanggupi oleh Buyut Arjani sebagai rasa bakti kepada ayah mertua juga kepada penduduk. Setelah mohon restu kepada mertuanya, berangkatlah Buyut Arjani bersama orang-orang pilihan membuka hutan sebelah timur Pedukuhan Windu untuk dijadikan pemukiman dan lahan pertanian.

Dengan bekal kesaktian yang dimilikinya, binatang buas yang ada di hutan itu tidak berani menggagu, maka terjadilah daerah pemukiman baru dan Buyut Arjani dijadikan penguasanya. Kemudian berdatanganlah penduduk dari daerah sekitarnya untuk bermukim dan bertani di daerah pedukuhan yang baru itu, dan di antara para pendatang itu yang bernama Buyut Semang beserta beberapa pengikutnya.

2
Buyut Semang
dan Lahirnya Pedukuhan Ki Mola

Buyut Semang adalah seorang yang sakti dan memiliki kemampuan melukis kayu pakai arang, dan ia juga pernah bertapa selama 40 hari dikubur setengah badan sambil melukis wayang bergambar Bima. Lukisan-lukisan yang dibuatnya bukan sembarang lukisan karena lukisan tersebut dapat dijadikan senjata sakti, di antaranya bisa menangkal serangan musuh dan menangkal turunnya hujan. Karena seringnya melukis, Buyut Semang dijuluki tukang pola atau Ki Mola sehingga pedukuhan disebut Pedukuhan Ki Mola yang sekarang disebut Blok Kimola.

3
Gunung Burung
dan Kesaktian Buyut Murnawi

Di sebelah selatan Pedukuhan Windu didiami oleh keturunan Buyut Jalalen yang bernama Buyut Murnawi. Di situ ada bukit yang sangat curam, ada air terjun dan banyak binatang buas dan dedemit yang konon katanya bernama Dedemit Jakaria, Jahiliyah dan Bangbarongan. Sedang bukit tersebut sekarang disebut Punduk Curug. Dengan kesaktian Buyut Murnawi yang sangat tinggi, bukit tersebut bisa dijadikan pedukuhan dan ramai penghuni dan pedukuhan tersebut dinamakan Gunung Burung.

4
Kyai Nawawi
dan Penyebaran Islam di Wilayah Windu

Di Pedukuhan Windu sebelah timur kedatangan seseorang yang bernama Kyai Nawawi yang dijuluki Bapak Ya’I. Beliau pendatang dari Pangkalan Kidul bertujuan untuk menyebarkan agama Islam, dan dia mendirikan sebuah pesantren di pedukuhan tersebut. Kemudian pesantren tersebut disebut Padepokan sehingga pedukuhan tersebut sekarang disebut Blok Depok.

5
Para Keturunan Buyut Jalalen
dan Sumur Kejayaan

Kemudian keturunan Buyut Jalalen yang lain bernama Buyut Wagir juga turut mengembangkan wilayah Windu Timur dan di sana terdapat sumber air (sumur) yang dikelilingi pohon Kirai yang sekarang pedukuhan itu dinamakan Cikirai.

Selain beberapa buyut tersebut di atas, ada keturunan Buyut Jalalen yaitu Buyut Haji (Haji Jamaludin). Di antara mereka, Buyut Haji lah yang lebih sakti ilmunya. Dia mempunyai tongkat ajaib/tongkat sakti yang dapat membuat sumber mata air (sumur) oleh tongkatnya itu, di antaranya:

  1. Sumur Batu Belah

  2. Sumur Cibangong

  3. Sumur Kopo

  4. Sumur Jambe

  5. Sumur Pereng

  6. Sumur Cilingga

  7. Sumur Duwet

  8. Sumur Sala

Dari kedelapan sumur tersebut di atas dinamakan Sumur Kejayaan yang sekarang berada di wilayah Desa Windujaya. Namun ada 3 sumur lainnya yang sekarang ada di wilayah Desa Winduhaji, di antaranya:

  1. Sumur Pandan

  2. Sumur Gede

  3. Sumur Pacing


6
Buyut Balendang
dan Peristiwa Cibelendung

Sementara itu di wilayah selatan bagian barat Pedukuhan Windu, ada keturunan Buyut Jalalen yang mengembangkan wilayahnya bernama Buyut Balendang. Dia terkenal dengan senjata blankon kainnya (ikat kepalanya).
Ketika daerah itu terkena banjir bandang, oleh Buyut Balendang air itu di crukcruk atau dipagar menggunakan bambu kuning, dan ternyata ada seekor lembu yang menyangkut di pagar tersebut. Dengan kesaktiannya, lembu itu dipegang tanduknya dan dikibas menggunakan ikat kepalanya sehingga terjadi keanehan, banjir bandang dan lembu tersebut berbelok ke arah lain. Sampai sekarang belokan tersebut menjadi sebuah kali atau sungai yang sekarang dinamakan Cibelendung. Dan dengan kesaktian ikat kepalanya itu dia dapat mengalahkan para penyamun dan pembajak yang berkeliaran di wilayah tersebut.

 

7
Lahirnya Desa Windujaya
Penutup

Akhirnya dari beberapa pedukuhan yang dikembangkan oleh keturunan Buyut Jalalen disatukan menjadi sebuah desa yang diberi nama Desa Windujaya yang sekarang ada di wilayah Kecamatan Sedong. Dan pedukuhan yang sudah ramai itu sering dikontrol oleh Pangeran Suta Jaya selaku pengamanan di wilayah Cirebon.

Desa Windujaya berasal dari kata WINDU dan JAYA.
WINDU = Mengambil dari nama Buyut Windu, pendiri pertama Pedukuhan Windu.
JAYA = Mengambil dari nama Pangeran Suta Jaya sebagai pengamanan wilayah Cirebon.


8

Pemdes
Windujaya